TPAS Tebo, Sumber Rezeki dan Segudang Persoalan

Oleh:   detail detail   |   Maret 09, 2019
DETAIL.ID, Tebo - Sekitar jam 11 lewat siang Kamis itu (07/03/2019), dua unit mobil dump truck pengangkut sampah serat muatan tiba di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) di Desa Kandang, Kecamatan Tebo Tengah, Kabupaten Tebo.

Kedatangan sumber rezeki ini disambut senyum sumringah sekelompok pemulung yang sedari pagi menunggu.

Berjalan cepat dan sebagian berlari kecil, pahlawan lingkungan ini mengikuti arah mobil sampah (dump truck pembawa sampah) menuju lokasi pembongkaran.
Jalan ke lokasi pembongkaran sampah di TPAS Desa Kandang kondisinya masih tanah merah dan menurun. Ketika turun hujan, kata sang sopir, muatan sampah terpaksa dibongkar di pinggir jalan. Pasalnya, sudah berulang kali mobil sampah terpuruk karena jalan tanah yang dilintasi licin.

“Belum ada pengerasan sama sekali. Dimusim panas saja terkadang susah dilewati apalagi musim hujan,” kata sopir mobil angkutan sampah saat menuju lokasi bawah TPAS tersebut.

“Mungkin karena jalanya kering maka sampah dibongkar di bawah. Kalo hujan biasanya dibongkar di atas si pinggir jalan,” kata salah seorang pemulung yang mengaku tinggal tidak jauh dari TPAS.

Masalah kondisi jalan, kata sopir mobil angkutan sampah ini, sudah sangat sering dikeluhkan kepada intansi tempat dia bekerja. Namun belum ada tanda-tanda jalan tersebut akan ditingkatkan atau dilakukan pengerasan.

Dia berujar, ada satu titik jalan yang sulit dilalui karena kondisinya rusak parah dan ada lekukan. Kalau sudah turun hujan, jalan sama sekali tidak bisa dilalui. Pasalnya, selain rusak parah, lekukan jalan yang menjadi tempat tergenang air kondisnya becek dan berlumpur. “Itu yang membuat jalan sulit dilalui. Dan di situ juga sering terpuruk,” jelas sopir itu.

Kembali ke pemulung. Bak mobil sampah perlahan naik langsung digerumbuni para pemuling. Dengan mengunakan gancu, mereka mengorek-ngorek tumpukan sampah yang baru diturunkan dari mobil angkut sampah.

Sampah plastik berupa bekas mainan, botol atau gelas minuman dan sampah plastik lainnya yang laku dijual, dipilah dan dikumpulkan kedalam karung yang memang telah mereka siapkan.

Bau busuk, lentikan ulat dari tumpukan sampah dan lainnya, sepertinya sudah akrab dengan keseharian aktivitas mereka. “Sekarang agak susah dapat plastiknya. Sebelum sampah dibuang ke sini, sudah ada yang memilihnya. Jadi yang sampai ke sini cuma sisa-sisa,” kata salah seorang pemulung yang asik mencari sisa sampah layak jual.

Sampah medis ---Sisa jarum suntik, botol infus, sisa obat dan sampah medis lainnya, kata pemulung ini, sebelumnya sering ditemukan pada tumpukan sampah. Namun sudah beberapa hari belakangan ini jarang ditemukan, “Kalo bekas botol infus kami ambi (kumpulkan) karena laku dijual. Kalo jarum suntik kami biarkan saja. Ngeri ngumpulinya, soalnya tajam-tajam,” kata pemulung ini dan mengatakan harga jual plastik diangka Rp3.500 sampai Rp6.500 per kilo. |*|
|| TPAS Merugikan Desa ||

Kepala Desa Kandang, Kecamatan Tebo Tengah, Sofuan Hadi menjelaskan, ada anak sungai berjarak sekitar 20 meter dari lokasi TPAS. Ketika hujan, air mengalir ke sungai Batanghari. Jarak TPAS ke sungai Batanghari sekitar 1 Km. Karena anak sungai berkelok, diperkirakan aliran anak sungai ke sungai Batanghari sekitar 1,5 sampai 2 Km. “Kalau kemarau airnya (anak sungai) kering,” jelas Kades.

Menurut Kades, dengan dampak bauk busuk dan tanpa ada pengelolaan sampah, keberadaan TPAS tersebut sudah tidak layak lagi berada di pinggir jalan desa menuju dusun seberang.

Apalagi, kata dia, beberapa warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi TPAS mengeluhkan karena banyak lalat berkeliaran.

Tidak itu saja, karena lokasi TPAS tidak ditunjang dengan jalan yang layak, membuat petugas pengangkut sampah membuang sampah di pinggir jalan. Selain sampah menumpuk, bibir jalan sudah banyak yang rusak diduga akibat mobil angkutan sampah tersebut.

Diakui Kades jika kondisi tersebut pernah dikomplinnya kepada intansi terkait. Bahkan, dia bersama warga pernah membuat spanduk larangan agat tidak membongkar sampah di pinggir jalan. Namun larangan tersebut tidak diindahkan.

Tidak sampai disitu, Kades juga mengaku jika dia bersama warga pernah melarang dan menstop mobil sampah yang hendak membuang atau membongkar sampah di pinggir jalan, tapi harus bongkar di bawah TPAS.

Dia juga minta agar sampah yang telah menumpuk hingga di badan jalan agar di doser ke bawah TPAS. “Setelah kita stop, baru sampah dibuang ke bawah. Sekarang sudah mulai lagi dibuang di pinggir jalan. Ini yang sering membuat kita kesal,”ketusnya.

Kades mengakui jika persoalan ini sudah disampaikannya ke pihak kecamatan. Namun alasan dari camat, jalan ke bawah TPAS licin dan tidak memungkinkan untuk dilintasi mobil sampah, apalagi jika sudah turun hujan. “Kalau jalannya licin kan seharusnya diperbaiki atau dikasih sirtu. Pemerintah kan ada anggaran. Ini malah jalan licin dijadikan alasan untuk membuang sampah di pinggir jalan. Ini sangat merugikan kami,” ketus Kades.

Diungkapkan Kades jika Pemkab Tebo berjanji akan merelokasi TPAS tersebut. Namun janji hanya tinggal janji, sampai sekarang belum juga TPAS direlokasi di lokasi yang di janjikan. “Katanya 2019 janjinya mau dipindahkan, sudah saya tanya, katanya tempat yang baru belum siap. Tapi sampe kapan. Kalo kayak gini kami yang dirugikan, jalan rusak karna bahu jalan longsor. Belum lagi bauk tidak sedap, lalat dan lainnya,” katanya.


||LP2LH Temukan Limbah Medis||
||Pemkab Langgar Permen LHK dan Perpres||

Di hari yang sama, Lembaga Pemantau Penyelamat Lingkungan Hidup (LP2LH) sengaja datang melihat aktivitas di TPAS Desa Kandang, Kecamatan Tebo Tengah.

Hasil wawancara dengan sopir dump truck pengangkut sampah, setiap hari sedikitnya 3 mobil bermuatan penuh membuang sampah di lokasi TPAS tersebut.

“Artinya dalam sehari TPAS menampung sampah sedikitnya 4,5 ton,” kata Ketua LP2LH Tebo, Hary Irawan.

Dari pengamatan LP2LH, Wawan sapaan Hary Irawan berkata, petugas atau sopir mobil sampah langsung membuang sampah ke lokasi TPAS. Sampah hanya dibiarkan menumpuk tanpa ada pengelolaan dengan sistem 3R yang telah ditetapkan oleh kementerian dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia (Permen LHK RI) Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle Melalui Bank
Sampah.

Pedoman 3R dijelaskan Hary, adalah Reduce, Reuse dan Recycle. Reduce, mengurangi sampah dengan mengurangi pemakaian barang atau benda yang tidak terlalu dibutuhkan. Reuse, memakai dan memanfaatkan kembali barang-barang yang sudah tidak terpakai menjadi sesuatu yang baru, dan Recycle adalah mendaur ulang kembali barang lama menjadi barang baru.

“Hasil observasi kita di beberapa TPA, sampah hanya dibiarkan saja menumpuk tanpa ada pengolahan. Yang parahnya lagi, kita menemukan sampah medis di setiap TPAS, “ketus lelaki berkaca mata ini.

Selain itu menurut Hary lagi, Pemkab Tebo juga diduga mengindahkan Peraturan Presiden (Perpres) No.97 tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (Jakstranas).

“Dalam waktu dekat ini kita akan menanyakan kepada Pemkab Tebo melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) soal dokumen Jakstrada. Apakah Tebo sudah punya strategi penanganan sampah susuai Perpres Jakstranas,”kata Hary.

Diakui Hary jika persoalan sampah di Kabupaten Tebo saat ini belum begitu menjadi sorotan masyarakat. Namun, kata dia, persoalan sampah sudah menjadi masalah ditingkat nasional. “Jangan sampai persoalan sampah ini menjadi masalah di Tebo,” kata dia.

Sementara, beberapa waktu yang lalu, Kepala Bidang Kebersihan di Dinas LH Kabupaten Tebo, Bunyamin mengaku jika saat ini Kabupaten Tebo belum melakukan penanganan sampah secara spesifik. “Selama ini sampah kita angkut dan kita tumpukan di TPA. Kalau sudah menumpuk si TPA, baru kita doser,” kata dia.

Hal ini dibenarkan oleh Kepala DLH Tebo, Eko Putra. Dia membeberkan jika saat ini Kabupaten Tebo memiliki 4 lokasi TPA yakni di Kecamatan Tebo Tengah, Rimbo Bujang, Tebo Ilir dan Rimbo Ilir.

Eko mengakui jika di empat lokasi TPA ini belum dilengkapi fasilitas pengelolaan. “Kalau sampahnya sudah menumpuk, paling kita sewa alat berat untuk didoser. Kalo untuk pengolahan memang belum ada,”ujar Eko.

(DE 02/Iyal)

Tampilkan Komentar