Pertama Kali, Atraksi Puluhan Satwa Buas di Alam Desaku

Oleh:   Media Detail Media Detail   |   Februari 28, 2019
ATRAKSI: Andi dari Komunitas S3 tengah beratraksi di depan ratusan pengunjung. FOTO/LP2LH

DETAIL.ID, Muarojambi – Hary yang biasanya lincah energik mendadak diam. Tangannya gemetaran kala melihat puluhan ular beragam jenis dan ukuran. Binatang melata tidak dilepas namun dipajang di beberapa tempat.

“Kalau sudah lihat ular, saya takut nian. Jangankan sebesar itu, lihat ular kecil saja rasanya geli,“ kata pria berusia 35 tahun itu kepada detail, Rabu (27/2/2019). Hary mengaku phobia terhadap ular sejak kecil.

Padahal Hary bukan kali ini saja datang ke tempat itu – sebuah Wisata Alam Desa yang berada di Desa Pudak, Kecamatan Kumpe Ulu, Kabupaten Muarojambi. Ia sudah kesekian kalinya datang. “Pokoknya sudah seringlah saya ke sini,” tuturnya.

ATRAKSI: Komunitas S3 tengah beratraksi di depan ratusan pengunjung. FOTO/LP2LJ

Sikap Hary justru kontras dengan Andi yang tampak akrab dengan seekor ular piton sepanjang 2 meter lebih. Andi mengalungkan ular itu di lehernya. Maklum, Andi adalah Ketua Sumatran Snake Show (S3) – sebuah komunitas pencinta hewan khusus ular.

Atraksi Andi bersama ular merupakan rangkaian acara Animals Exhibition and Gathering 2019 yang digelar oleh Lembaga Pemantau Penyelamat Lingkungan Hidup (LP2LH) di Wisata Alam Desaku tersebut.

LP2LH tidak sendirian. Selain melibatkan S3, lembaga pegiat lingkungan itu juga menggandeng Jambi Parrot Lovers (JPL), Jambi Musang Lovers (Jamur), Mamalia Jambi Reptile (MJ Reptile), dan Saudara Tak Sedarah (STS).

ATRAKSI: Komunitas S3 tengah beratraksi di depan ratusan pengunjung. FOTO/LP2LJ

Cuaca memang gerimis tapi tak mengendurkan semangat kelima komunitas itu. Mereka beratraksi sambil memamerkan koleksi hewan peliharaannya. Ada yang beratraksi dengan buaya, burung, musang.

Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) LP2LH, Tri Joko Purwanto sekaligus pengelola Wisata Alam Desa berkata acara Animals Exhibition and Gathering 2019 ini terbuka untuk umum. Tujuannya, agar pengunjung bisa melihat langsung dan bercengkrama dengan hewan-hewan yang dipamerkan. Niat pria yang akrab disapa Joko tersebut, acara itu dapat memotivasi pengunjung agar mencintai hewan yang dilindungi.

“Ini merupakan salah satu cara membangun komunikasi antara manusia dan hewan. Jika komunikasi telah terbangun, tentu akan timbul rasa kecintaan,” kata pria berusia paruh baya itu.

ATRAKSI: Komunitas S3 tengah beratraksi di depan ratusan pengunjung. FOTO/LP2LJ

Selama ini, cerita Joko, sering terjadi konflik manusia dengan hewan. Misalnya, konflik manusia dengan gajah, harimau ataupun buaya dan beragam satwa buas lainnya.

Joko punya solusi. Salah satu cara mengurangi konflik adalah membangun komunikasi di antara keduanya. “Lama kelamaan akan timbul rasa kecintaan. Kalau sudah begitu tentunya saling jaga. Nah, otomatis memperkecil konflik manusia dengan hewan,“ kata pegiat lingkungan ini.

Tidak hanya itu, lembaga yang dipimpin Joko telah beberapa kali menyelamatkan hewan yang sekarat. Sebagian besar hewan itu kategori dilindungi. “Setelah luka parah baru diserahkan sama kita. Ya, kita obati, kita karantina kemudian kita kembalikan ke habitatnya,“ ujar Joko.

Kembali ke acara tadi, Jefri dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi memberi acungan jempol. “Ini salah satu kegiatan upaya memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang satwa liar,” kata Jefri.

Jefri bertutur BKSDA kini sedang gencar-gencarnya menangani konflik satwa dengan manusia maupun konflik lahan. Sepanjang tahun 2018, pihaknya telah menanggulangi konflik hewan dengan manusia lebih dari 300 kali. Mulai dari konflik manusia dengan beruang, harimau, gajah dan lainnya.

“Jujur dengan acara ini, kami sangat terbantu. Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, masyarakat semakin sadar dan konflik antara hewan liar dan masyarakat semakin berkurang,” ujarnya.

Jefri berharap kepada LP2LH juga menyediakan tim medis khusus satwa. Alhasil, kata Jefri, BKSDA bisa bergandengan tangan dengan LP2LH untuk bekerjasama merehabilitasi hewan-hewan dilindungi sebelum dilepasliarkan.

Bupati Muarojambi melalui Staf Ahli Bupati Muara Jambi, Suparmo berharap acara Animals Exhibition and Gathering 2019 bisa meningkatkan pengetahuan dan kecintaan manusia terhadap hewan.

“Kalau dahulu, manusia takut dengan penghuni hutan (satwa liar) seperti harimau, buaya, dan ular. Sekarang malah diburu. Padahal yang diburu itu sebagian adalah hewan yang dilindungi. Dengan acara ini, mudah-mudahan masyarakat lebih mengenal hewan-hewan mana yang dilindungi,” kata Suparmo.

(DE 02)

Tampilkan Komentar