Merasa Tertipu, Kontraktor Pagar Lapas Dilaporkan Pekerja ke Polisi

Oleh:   Media Detail Media Detail   |   Januari 17, 2019
Pekerjaan pagar Lapas Perempuan yang berujung pada pelaporan ke pihak kepolisian. FOTO/Jogi Sirait
DETAIL.ID– Merasa tertipu, akhirnya Sumarman (45) melaporkan Faatumbu Duha (53) kontraktor Pembangunan Lapas Perempuan (Tembok Keliling, Gedung Kantor, Dapur, Sumur Bor, Instalasi, dan Menara) senilai Rp4,3 miliar ke Polresta Jambi. 

Sumarman melaporkannya pada 4 Januari 2019 lalu dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) Nomor: STPL/B/14/I/SPKT I/Polresta Jambi pada 4 Januari 2019 dengan tuduhan tindak pidana penipuan pasal 378 KUHPidana. 

“Saya beserta tukang belum dibayar sebesar Rp500 juta oleh Faatumbu Duha yang membuat perjanjian kontrak kerja dengan saya. Padahal dia ternyata bukanlah Direktur Utama sehingga kami merasa tertipu,” kata kepada detail, Kamis (17/1/2019). 

Proyek pagar lapas itu dimenangkan PT Dasor Pagar Pasogit dengan penawaran Rp 4,3 miliar. PT Dasor dimiliki oleh caleg nomor urut 6 dari daerah pemilihan Kotabaru yaitu Parulian Pangaribuan. Diduga PT Dasor disewa oleh Faatumbu Duha, caleg dapil Kota Jambi untuk Provinsi Jambi. Mereka berdua sama-sama caleg dari PDIP.

Baca: Ada Rental Perusahaan antar Sesama Caleg Dalam Tender Lapas Perempuan Jambi
Mereka berdua telah bekerja sama dalam memenangkan tender Pengadaan Bahan Makanan Tahanan dan Narapidana pada Lapas Kelas IIA Jambi senilai Rp 7,4 miliar pada akhir tahun 2017.

Sumarman menceritakan bahwa awalnya pada 10 September 2018 dia bertemu dengan Duha. Awalnya, Sumarman diminta untuk mencarikan tukang dengan upah sebesar 15 persen dari nilai proyek. 

“Setelah separuh jalan, tukang saya tak sanggup dan berhenti bekerja karena bahan sering tidak ada serta upah 15 persen itu sangat minim. Tukang saya merasa rugi,” ujarnya. 

Baca Juga: Sehari Jelang Pensiun, Kakanwil Kemenkumham Jambi Didemo
Kemudian, Sumarman dan Duha membuat surat perjanjian dengan alasan surat tersebut untuk alat mencari bantuan Pak Menteri terkait dana untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. 

“Hingga akhirnya setelah pekerjaan itu saya selesaikan pada 31 Desember 2018, sisa pembayaran tak kunjung dilunasi. Terpaksa saya melaporkan ke pihak kepolisian,” Sumarman menjelaskan. (DE 01)

Tampilkan Komentar