Ada Ribuan Obat dan Kelambu Kedaluwarsa Tertumpuk dalam Gedung Farmasi

Oleh:   Media Detail Media Detail   |   April 05, 2018
Tumpukan obat-obatan kedaluwarsa di dalam gedung Instalasi Farmasi. FOTO/Toha
DETAIL.ID – Muhammad Toha kaget menemukan tumpukan obat-obatan kedaluwarsa dan kelambu obat di gedung Instalasi Farmasi di bilangan Telanaipura. Obat-obatan itu masih berbungkus dalam kardus-kardus. Sementara kelambu masih tersusun rapi mirip seperti kain bundelan yang berbal-bal. 

Pria berusia 33 tahun itu menemukan pada Kamis (29/3/2018) pekan lalu. Ia sempat bertanya ke pihak terkait. Namun mereka bilang barang-barang tersebut telah kedaluwarsa dan tak sempat didistribusikan. "Obat-obatan itu dilempar begitu saja dari atas," kata Toha kepada detail, Kamis (5/4/2018).

Toha merupakan aktivis Forum Pemantau Anggaran Pembangunan Jambi (FPAPJ) yang diketuai Edi Latief (37). Toha langsung melaporkan kepada Edi Latief.

Sepekan kemudian atau persisnya pada Kamis (5/4/2018), Edi Latief bersama rekan-rekannya langsung mendemo Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jambi. "Kami meminta Kejati Jambi untuk memeriksa pihak Dinas Kesehatan Provinsi Jambi atas dugaan korupsi dalam praktek pengadaan obat-obatan tersebut," kata Edi berorasi dengan bersemangat.

Kelambu yang telah kedaluwarsa yang ditumpuk di dalam gedung Instalasi Farmasi. FOTO/Toha
Edi membandingkan dengan fakta bahwa pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher kerapkali mengaku kekurangan obat. Namun ternyata obat-obatan yang di Instalasi Farmasi ini sampai ribuan obat malah tersimpan karena kedaluwarsa.

"Begitu pula masyarakat yang berada di pelosok desa sangat berkekurangan kelambu, obat-obatan dan kekurangan gizi. Namun ironisnya, pengelolaan pengadaan obat-obatan di Provinsi Jambi disimpan dan tidak didistribusikan hingga kedaluwarsa. Saya menduga, ada permainan di dalam tubuh Dinas Kesehatan Provinsi Jambi," ujarnya. (DE 01)

Tampilkan Komentar