Dubes Denmark Datang ke Jambi Terkesan Diam-diam, Kenapa?

Oleh:   Media Detail Media Detail   |   Maret 07, 2018
Adam Azis (kiri) bersama Duta Besar Denmark, Rasmus Abildgaard Kristensen FOTO/ist
DETAIL.ID – Pertengahan Februari 2018 lalu, ternyata Duta Besar (Dubes) Denmark untuk Indonesia, Rasmus Abildgaard Kristensen datang ke Jambi. Namun kedatangannya dilakukan diam-diam dan terkesan dirahasiakan. Tak satupun media massa atau publik di Jambi yang mengetahui kedatangannya.

Head of Stakeholder Patnership PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI), Adam Azis mengakui kebenaran kedatangan Rasmus. Namun dia hanya berkomentar singkat, "Yo, tapi dubes nggak mau ada publikasi. Maaf yo." Hanya itu disampaikan Adam Azis melalui pesan whatsapps belum lama ini.

Informasi yang diterima detail, Dubes Rasmus datang ke lokasi Hutan Harapan pada Selasa, 20 hingga 21 Februari 2018. Tak satupun media yang mengetahuinya sejak datang hingga pulang dari Jambi.

Denmark adalah salah satu sumber donasi untuk proyek Hutan Harapan (Harapan Rainforest) yang dikelola PT REKI. Denmark telah menghibahkan dana sebesar Rp 120 miliar untuk tahun 2012 hingga 2015. Pada 28 September 2016 lalu, Duta Besar Denmark ketika itu, Casper Klynge menyambangi kawasan PT REKI di Dusun Kunangan Jaya II, Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari Jambi.

Kedatangan Casper tak lama setelah Denmark kembali menghibahkan dana Rp 40 miliar buat tahun 2018 sampai 2018. Artinya, total Denmark telah mendonasikan dana sebesar Rp 160 miliar untuk proyek Hutan Harapan. Itu belum lagi ditambah dari lembaga lain yang mendonasikan dengan jumlah yang juga cukup fantastis. Meskipun dana yang dikelola PT REKI cukup besar, namun perambahan tetap terjadi setiap hari sekitar sembilan lapangan sepakbola.

Kedatangan Dubes Rasmus yang diam-diam justru berbanding terbalik dengan kedatangan Dubes Casper. 

"Saya juga bingung. Kedatangan Dubes Casper dulu ramai pemberitaannya. Entah kenapa kali ini, Dubes Rasmus datang secara diam-diam dan menolak publikasi. Dari mana logikanya seorang pejabat penting, datang dirahasiakan. Karena untuk pejabat biasa saja tentu ingin dipublikasi. Ini kok dirahasiakan. Ada apa?" tanya Ketua DPP Lembaga Pemantau Penyelamat Lingkungan Hidup (LP2LH), Tri Joko kepada detail, Rabu (7/3/2018). (DE 01)

Tampilkan Komentar