Asimetris, Sebuah Dokumenter Tak Simetrisnya Bisnis Sawit

Oleh:   Media Detail Media Detail   |   Maret 14, 2018
Ratusan penonton yang membludak menghadiri penayangan perdana film Asimetris di The Tempoa Jelutung, Kota Jambi. FOTO/PH
DETAIL.ID – Penonton di The Tempoa Jelutung, Kota Jambi membludak pada Selasa (13/3/2018) malam hingga lebih dari 150-an penonton. Jika nonton bareng diadakan di Kantor Wahana Lingkungan (Walhi) Jambi, bisa dipastikan tak sanggup menampung jumlah penonton.

Film Asimetris dibuka dengan prolog yang cukup panjang, lebih dari 11 menit. Dimulai dari perjalanan ekspedisi Indonesia Biru -- penjelajahan seluruh Indonesia menggunakan sepeda motor selama setahun penuh sepanjang 2015 oleh Dandhy Dwi Laksono, videographer Watchdoc.

Setelah menempuh perjalanan 14.000 kilometer, pada Oktober 2015 Dandhy tiba di Borneo, Kalimantan. Ia merasakan pekatnya kabut asap yang melanda Kalimantan dan Sumatra sejak Juli hingga Oktober 2015.

Saya yakin Dandhy Dwi Laksono tidak sengaja membuat Asimetris. Ia mendadak menemukan ide cerita dari kisah kabut pekat yang melanda Kalimantan. Pada 20 Oktober 2015, kadar polusi di Palangkaraya mencapai 1.300 persen dari ambang kualitas udara yang sehat bagi manusia. Di Sumatra dan Kalimantan, 19 orang meninggal akibat polusi kabut asap. Sekitar setengah juta di antaranya mengalami infeksi saluran pernapasan.

Asimetris digarap dengan pendekatan jurnalisme. Atau boleh dibilang hasil liputan mendalam (indepht). Banyak data yang dipaparkan di hampir setiap bagian film. Bahkan, juga menampilkan info grafis sehingga penonton mudah memahami isi film.

Seperti misalnya film ini dimulai dari cerita kegagalan total pemerintah menggarap cetak sawah seluas 1,4 juta  hektar di Kalimantan Tengah pada 1996 silam. Bendungan itu tak pernah terpakai. Yang tersisa hanya bekas saluran irigasi di lahan yang sudah gundul dan gambut yang terlantar.

Lantas, Asimetris membandingkan dengan rencana Presiden Jokowi yang membikin program cetak sawah 1 juta hektar di tanah Papua.

Namun secara keseluruhan, Asimetris membahas mendalam betapa Indonesia yang menjadi salah satu produsen minyak sawit di dunia. Sawit menjadi primadona dunia. Ia kini menjadi tiga jenis produk: makanan (oleofood), oleokimia atau oleochemical (sabun, deterjen, campuran bahan pelumas mesin), campuran bahan bakar (biofuel).

Pada setiap liter biodiesel kini terdapat 20 persen campuran minyak sawit dan pada 2020 akan meningkat menjadi 30 persen. Bahkan 2 persen campuran minyak sawit juga untuk bahan bakar pesawat termasuk 1/3 untuk kebutuhan listrik negara.

Di Eropa, dari 7 juta ton minyak sawit sekitar 16 persennya untuk kebutuhan listrik dan pemanas ruangan ketika musim dingin. Namun 46 persennya digunakan untuk bahan bakar kendaraan.

Kita memiih jalan hidup, 50 persen kebutuhan hidup bergantung kepada minyak sawit. Sehingga setiap lima tahun, rata-rata lahan perkebunan sawit bertambah seluas Pulau Bali.

Namun ironisnya yang menikmati hasil dari sawit itu -- kini telah mencapai 11 juta hektar atau hampir seluas Pulau Jawa -- hanya 25 perusahaan sawit terbesar di Indonesia. Ke-25 perusahaan itu mengendalikan hingga 5 juta hektar atau separuh Pulau Jawa.

Sawit juga membuat 14 pengusaha menjadi orang terkaya dari 30 orang terkaya di Indonesia. Mereka tak hanya berbisnis sawit tetapi juga berbisnis rokok, properti, pengolahan pangan hingga memiliki media massa.

Meskipun Asimetris memberi contoh Syahruni, seorang petani yang tak sengaja menanam kebun pribadinya hingga 50 hektar sawit lantaran menghindari pencaplokan lahan oleh perusahaan perkebunan -- sebagai strategi untuk mengamankan lahan pribadinya. Jika dalam sebulan ia mendapat hasil Rp 15 juta, paling banter pendapatan bersihnya hanya Rp 3 juta. Sebagian sawitnya dibiarkan begitu saja, sepanjang tidak dicaplok perusahaan. Sebab sawit butuh biaya tinggi. 80 persen dari hasil produksi digunakan untuk biaya perawatan.

"Kalau hanya punya 3 atau 4 hektar, sekalipun kita panen sendiri tanpa mempekerjakan tukang panen, hasilnya tak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari," kata Syahruni.

Syahruni mematahkan argumentasi Presiden Joko Widodo yang bilang bahwa petani sawit bisa memanen satu hektar kebun sawitnya sebanyak 8 ton.

Kembali ke cerita kabut asap. Ternyata biaya ekonomi akibat kebakaran lahan dan hutan pada 2015 mencapai Rp 221 triliun. Jauh lebih besar dari seluruh nilai tambah produksi sawit yang hanya 158 triliun.

Oleh karena itu, Asimetris menggambarkan pula sebuah koperasi di pedalaman Ketapang Kalimantan Barat yaitu Credit Union Gemalaq Kemisiq (CUGK) -- berdiri sejak 1990 --- menolak pembiayaan terhadap kebun kelapa sawit. Anggotanya mencapai 15.000 orang.

Sawit dianggap merusak lingkungan. Bagi mereka, ekonomi sawit adalah ekonomi yang mahal bagi lingkungan dan bagi kehidupan sosial masyarakat. Karena itu, CUGK menanamkan kepada anggota agar tidak bergantung kepada satu jenis tanaman.

Lain halnya dengan perbankan. Film ini memaparkan daftar bank di luar maupun dalam negeri yang mengucurkan pinjaman buat 25 industri kelapa sawit yang terbesar di Indonesia. Total dana yang dikucurkan dalam lima tahun sebesar 17 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 170 triliun.

Asimetris jika kita cek di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya tidak setangkup atau tidak simetris. Simetris artinya sama kedua belah bagiannya. Berarti asimetris bermakna tidak setangkup atau tidak sama kedua belah bagiannya.

Pesan film ini adalah bahwa seberapapun besarnya keuntungan dari bisnis sawit tetap tak seimbang dengan kerugian yang kita derita yang kelak kita wariskan buat anak cucu kita. (*)

Tampilkan Komentar