Liberika, Kopi Primadona dari Tanah Gambut

Oleh:   Media Detail Media Detail   |   Januari 26, 2018
Biji kopi liberika foto: Lili Rambe
Oleh: Lili Rambe*

KOPI liberika adalah jenis kopi yang mungkin kalah pamor dibanding kopi arabika atau robusta. Namun sejak kopi menjadi tren dan bagian dari gaya hidup global kopi liberika pun mulai mencuat namanya. “Bagi para penikmat kopi yang akrab dengan kopi arabika dan robusta kopi liberika memang tidak senikmat dua jenis kopi yang telah terlebih dahulu terkenal,” kata Veronica Herlina, Direktur Eksekutif Sustainable Coffee Platform Indonesia (SCOPI).

Meskipun dari segi rasa dan aroma berbeda dengan arabika dan robusta, liberika banyak diminati oleh negara-negara di Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura, katanya. Kopi liberika juga diminati oleh produsen kopi skala besar sebagai campuran kopi arabika atau robusta.

"Prospek kopi ini sangat bagus dikembangkan, karena sekarang orang semakin banyak yang suka minum kopi. Dalam pengembangan kopi jenis ini sudah ada petani di Jambi yang mengembangkannya," kata Veronica.          

Tidak ada seorangpun yang tahu siapa yang pertama sekali membawa bibit kopi liberika ini ke Tanjung Jabung Barat. Tapi dari cerita mulut ke mulut, asal usul bibit ini dibawa ke Tanjung Barat oleh salah seorang warga dari Johor Baru, Malaysia, beberapa tahun lalu. Setelah ditanam dan dikembangkan, ternyata bisa tumbuh dan subur. Meski perlakuannya agak sedikit dari kopi di tanah mineral dan dataran tinggi seperti yang dikenal selama ini.

Akan tetapi kopi liberika jadi peluang tersendiri bagi mereka para pecinta kopi. “Awalnya kami juga tidak tahu. Tapi setelah belajar dari pengalaman sejak bibit ini ada beberapa tahun lalu, kami belajar tentang bagaimana menurunkan keasaman tanah gambut dari 7,4 hingga 7,6. Apalagi setelah ada dukungan dari lembaga swadaya lokal, Yayasan Mitra Aksi.

Mereka mendapat berbagai pelatihan tentang tata cara pengelolaan lahan yang ramah lingkungan. Oleh Mitra Aksi mereka diajarkan cara bercocok tanam kopi yang ramah lingkungan dengan pendekatan sekolah lapang petani. “Butuh 3 musim tanam untuk mengubah mereka dari petani tanah mineral menjadi petani di lahan gambut,” ujar Hambali, seorang aktivis dari Mitra Aksi.

Ciri-ciri tanaman kopi liberika memiliki bentuk daun, bunga, dan buah kopi yang lebih besar daripada robusta dan arabika. Dalam banyak referensi, Setiap buku pada cabang tanaman bisa tumbuh bunga dan buah yang lebih banyak dari pada kopi lainnya. Bahkan kopi jenis liberika ini dapat tumbuh di tanah dataran tinggi maupun dataran rendah. Dengan hasil produksi buah dapat dipetik sepanjang tahun.

Tak hanya itu, kopi liberika juga dinilai lebih tahan terhadap serangan jenis penyakit HV dibanding kopi dari jenis lain. Kopi liberika mutunya dianggap lebih rendah dari robusta dan arabika. Ukuran buahnya tidak merata, ada yang besar ada yang kecil bercampur dalam satu dompol. Selain itu rendemen kopi liberika juga sangat rendah yakni sekitar 12 %.

Produktivitas jenis kopi liberika di Tanjung Jabung Barat ini bisa menghasilkan kopi pada kisaran 700 kg per hektar dalam setahun. Salah satu daerah di Indonesia yang dikenal sebagai penghasil kopi liberika nomor satu adalah Jambi. Bahkan provinsi ini mampu menghasilkan buah kopi hingga mencapai 270 ton per tahun. Hebatnya Jambi bahkan berhasil menciptakan varian baru dari kopi ini yang diberi nama kopi liberika tungkal komposit (litbtukom). Rata-rata harga green bean kopi liberika dibandrol di kisaran Rp35.000 perkilogram.

Ahmad Mahfur, seorang petani kopi liberika lahan gambut di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi mengatakan bahwa saat ini, Ia dan rekan-rekannya yang tergabung dalam koperasi Sido Muncu tidak hanya menanam dan memanen kopi tapi juga melakukan pengolahan kopi pasca panen.

“Setidaknya kami sudah memproduksi 5 varian kopi dari jenis lilberika ini,” kata Ahmad. Ia dan rekan-rekannya saat ini mengelola hasil kopi jenis liberika di luasan areal 2.710 hektar.
Kelima varian itu adalah jenis Fermentasi, Non Fermentasi, Natural, Kopi Madu dan semi washed. Kelima cara pengelolaan itu menghasilkan cita rasa yang berbeda. Empat jenis kopi yang dikelola sekarang ini ditawarkan dengan harga Rp 35 ribu per kg. Sedangkan khusus untuk Kopi Madu, ditawarkan dengan harga Rp 300 ribu per kg.


Harga-harga tersebut ditawarkan sebelum memasuki proses sangrai (penggorengan). Artinya, biji telah diberikan perlakuan berbeda produk yang akan dibuat. “Yang kopi madu memang mahal. Karena prosesnya membutuhkan air yang banyak dan dengan kualitas standar PH (keasaman) sama dengan air mineral,” kata Ahmad.

Pengelolaan pascapanen ini dilakukan karena para petani karena berharap dapat harga yang lebih baik lagi. Meski hanya sampai ke tingkat kopi bubuk, tapi harganya sudah jauh lebih baik bila mereka menjual biji basah (masih berkulit). Terkait proses, kesulitan terbesar adalah tersedianya air bersih yang tingkat keasamannya minimal sama dengan air isi ulang atau mineral yang dijual.

“Khusus untuk Kopi Madu, di sini tingkat kesulitannya. Karena kami tidak mampu mengadakan air bersih dalam jumlah besar untuk melakukan perendaman dan pencucian,” tambah Ahmad. Namun, yang pasti keberhasilan petani trans ini membuktikan pertanian di lahan gambut tanpa merusak tata kelola air dan karakteristik gambut itu sendiri menjadi pembelajaran tersendiri.

Saat ini Indonesia menjadi produsen kopi terbesar ke-4 di dunia. “Indonesia memegang posisi penting dalam menjaga pasokan dan memenuhi permintaan kopi global karena Indonesia mempunyai potensi lahan kopi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan” kata Veronica.

Menurutnya petani harus bisa mengambil peluang dalam mengembangkan kopi jenis liberika. Jenis kopi tersebut mempunyai prospek yang bagus karena bisa tumbuh di lahan gambut dan peminat pasarnya juga besar dan SCOPI berkomitmen untuk membantu petani membuka pasarnya.

Kompos Dari Limbah Kopi Liberika

Selain bijinya yang bernilai ekonomi tinggi limbah kulit kopi liberika juga dapat dimanfaatkan untuk menjadi pupuk untuk tanaman kopi dan tanaman lainnya. BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Jambi telah mengembangkan pupuk kompos dari kulit kopi liberika di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Kompos dari limbah kulit kopi ini mengandung nitrogen yang tinggi jika dibandingkan dengan jerami dan kotoran ternak. Limbah kulit kopi mengandung 6,19 % nitrogen sementara jerami mengandung nitrogen sebanyak 0,4 % dan kotoran hewan berkisar 0,4 hingga 0,95 %. Unsur nitrogen ini sangat dibutuhkan untuk memicu pertumbuhan generatif tanaman.

Luar biasa bukan, pesona Liberika?

*Jurnalis Mongabay Indonesia yang bermukim di Jambi

Tampilkan Komentar